menjaga lisan dan perkataan
Ceramah
I
Indah Rachmawati
4 Mei 2026
3 menit baca
3 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
"مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ" (ق: 18)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Yang terhormat para alim ulama, para kiai, Bapak-bapak tokoh masyarakat, serta seluruh hadirin wal hadirat yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita di tempat yang penuh berkah ini, dalam keadaan sehat wal'afiat. Tak lupa shalawat beserta salam kita curahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Hadirin sekalian yang berbahagia, pada kesempatan yang mulia ini, izinkan saya menyampaikan sebuah materi yang sangat penting bagi kehidupan kita, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Tema yang akan kita kupas bersama adalah "Menjaga Lisan dan Perkataan". Lisan, sebuah anggota tubuh yang kecil, namun dampaknya begitu besar, bisa membawa kebaikan berlipat ganda, namun juga bisa menyeret kita ke jurang kenistaan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Qaf ayat 18, yang baru saja kita dengarkan, "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." Ayat ini dengan tegas mengingatkan kita bahwa setiap perkataan yang keluar dari lisan kita, sekecil apapun, akan selalu dicatat oleh malaikat. Ini adalah sebuah pengingat yang sangat kuat untuk kita senantiasa berhati-hati dalam bertutur kata.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari Muslim). Hadits ini mengajarkan kepada kita sebuah kaidah emas: jika perkataanmu tidak mengandung kebaikan, maka lebih baik engkau menahan diri untuk tidak mengucapkannya. Ini bukan berarti kita harus diam seribu bahasa. Bukan, tapi kita harus selektif dalam berbicara. Kita harus memilih kata-kata yang bermanfaat, yang membangun, yang mendatangkan kebaikan, dan menghindari ucapan yang sia-sia, yang menyakiti hati, atau bahkan mendatangkan dosa.
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat di desa kita yang tercinta ini, menjaga lisan menjadi sangat krusial. Seringkali, perbedaan pendapat, kesalahpahaman kecil, atau bahkan rasa iri dan dengki dapat memicu ucapan-ucapan yang menyakitkan. Gosip, fitnah, adu domba, saling mencela, itu semua adalah penyakit lisan yang merusak tatanan sosial. Bayangkan, betapa indahnya hubungan antar tetangga jika lisan kita terjaga. Betapa harmonisnya kehidupan keluarga jika setiap anggota keluarga saling menjaga ucapan, saling menghargai.
Imam Syafi'i rahimahullah pernah berkata, "Ketika lidah seseorang sehat, maka cenderung membicarakan banyak hal. Namun, ketika lidah tersebut dalam keadaan sakit, ia tidak akan membicarakan apa pun." Perkataan ini mungkin terdengar sederhana, namun maknanya sangat dalam. Sakitnya lidah diibaratkan sebagai ketidakmampuan untuk berbicara. Ini mengingatkan kita untuk menjaga lisan kita agar tidak "sakit" karena banyak mengeluarkan perkataan yang buruk, sehingga pada akhirnya kita kehilangan kemampuan untuk berbicara yang baik dan bermanfaat.
Hadirin sekalian, hikmah dari menjaga lisan sangatlah banyak. Pertama, terjaganya hubungan baik antar sesama. Kedua, terhindar dari dosa dan celupan api neraka. Ketiga, mendapatkan ketenangan jiwa dan ketentraman hati. Keempat, mendatangkan ridha Allah SWT. Dan yang terpenting, lisan yang terjaga adalah cerminan dari keimanan seseorang. Orang yang beriman, lisannya akan selalu terjaga.
Oleh karena itu, marilah kita secara bersama-sama untuk senantiasa melatih diri kita, melatih lisan kita. Mulailah dengan introspeksi diri. Sebelum berbicara, bertanyalah pada diri sendiri: "Apakah perkataan ini akan membawa kebaikan? Apakah ini ucapan yang diridhai Allah? Apakah ini akan menyakiti hati saudaraku?" Jika jawabannya tidak, maka tahanlah lisan kita. Mari kita jadikan lisan kita sebagai sarana untuk menebar kebaikan, merajut silaturahmi, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mudah-mudahan apa yang telah kita bahas pada kesempatan ini dapat menjadi bekal berharga bagi kita semua untuk senantiasa menjaga lisan dan perkataan kita. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita di jalan yang lurus dan menjauhkan kita dari ucapan-ucapan yang mendatangkan murka-Nya.
Astagfirullahal 'azhim wa atubu ilaik. Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan dalam penyampaian, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Terima kasih atas perhatiannya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.